Dudi Ridwandi

Asli Kota Pekalongan, seorang tenaga kependidikan di Kota Pekalongan, yang meniti asa menjadi seorang penulis dan menjadi Dosen...

Selengkapnya
SERBA DAN SALAH Akhirnya Serba Salah

SERBA DAN SALAH Akhirnya Serba Salah

Di dalam hidup bermasyarakat kita harus pandai melilih dan memilah kata-kata orang. Karena kita dihadapkan banyak karakter manusia yang berbeda-beda. Ada yang pemarah, ada yang sombong, baik dan sebagainya. Setiap perkataan orang juga jangan diamini semua, bisa jadi kita yang repot sendiri. Pokoknya dikehidupan bermasyarakat selalu serba salah. Apalagi kalau kita dibenci orang, sesuatu yang kita lakukan pastilah salah dimata mereka. Dulu ada kisah mengenai orang yang bernama Nasrudin. Beliau adalah tokoh Sufi di jamannya. Suatu ketika dia dan anaknya meninggalkan rumahnya menuju pasar, bertemu lah mereka dengan beberapa orang. Dimana orang-orang itu berkata sambil mencibir “hai teman-teman, lihatlah bapak dan anak yang menuntun keledainya itu. Betapa bodoh dan tololnya mereka, masa keledai dituntun begitu saja, bukankah mereka bisa menaiki keledai tersebut agar tidak lelah?”. Mendengar cemoohan itu kemudian Nasrudin pun bersama anaknya menaiki keledai tersebut. Berselang tak lama dari kelompok pertama tadi si bapak dan anak ini ini bertemu dengan serombongan ibu-ibu yang berbisik-bisik namun dengan suara yang dikeraskan hingga bisikannya pun terdengar oleh Nasrudin dan anaknya “Masya’ Allah benar-benar keterlaluan mereka berdua itu, keledai yang badannya lebih kecil dari kuda dinaiki oleh dua orang pria yang badannya tegap. Kasihan keledai tersebut ya, kalau mau naik harusnya cukup satu orang saja”. Mendengar bisik bisik itupun, Nasrudin turun dari keledai namun anaknya tetap naik keledai.

Setelah beberapa lama dia menuntun keledai dan anaknya berada diatas punggung keledai, mereka bertemu dengan sekelompok orang lain lagi yang lagi lagi mereka juga mengunjing Nasrudin “benar-benar anak kurang ajar, masa dia enak-enak naik keledai sedangkan bapaknya disuruh jalan menuntun keledai?”. Mendengar gunjingan itupun, akhirnya si anak lelaki Nasrudin turun dari punggung keledai dan menuntun si keledai, sedangkan Nasrudin yang gantian menaiki keledai. Setelah beberapa lama berjalan, kali ini mereka berdua melewati daerah pemukiman, kembali di pemukiman itu mereka mendengar kata kata yang kurang mengenakkan yang datang dari beberapa penjuru pemukiman itu “hey kawan-kawan, lihatlah bapak yang tidak tahu malu, sementara dia naik keledai anaknya disuruh menuntun keledai”.

Mendengar cacian penduduk di daerah pemukiman itu, Nasrudin pun turun dari punggung keledai dan sang anak pun bertanya " bapak apa yang harus kita lakukan?" spontan saja Nasrudin meminta anaknya untuk bersama sama menggendong keledai tersebut. Namun tak ayal sontak begitu sampai di pasar mereka ditertawakan orang orang ,”hahahaha, lihatlah kedua bapak anak yang bodoh itu, masa keledai digendong, harusnya kan dinaiki atau dituntun”.

Hikmah yang bisa kita pelajari dari kisah Nasrudin dan anaknya diatas adalah dalam hidup ini janganlah kita terlalu mendengarkan omongan orang karena tidak akan ada habisnya omongan orang yang kita dengar yang kemudian akan mendorong kita untuk berbuat menuruti omongan orang. Padahal belum tentu semua omongan tersebut benar adanya.

Memang sekali-kali kita mendengarkan omongan orang untuk bahan masukan kita barangkali kita melakukan kesalahan tetapi jangan semuanya kita turuti omongan orang. Kita harus memilah-milah mana yang baik adan yang buruk. Kalau kita turuti jadilah seperti cerita Nasrudin dan anaknya tersebut diatas. Repot dan repot……

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Assalamu'alaikum wr wb. Tabaarakallaahu, akhwan. Lamongan, sebagian cinta kami tertambat di sana. Salam kenal

14 Feb
Balas

Wa'alaikumsalam Wr. Wb. Saudaraku. Salam kenal juga

14 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali